"Sejarah
Matematika"
11 Mei 2014
Documented
by Arvi Sintia
Sejarah matematika Islam dimulai dengan sungguh-sungguh semenjak
kehidupan al-Ma’mun (786–833). Meskipun al-Ma’mun figure penting dalam sejarah aljabar, tetapi ia bukan ahli
matematika. Ia adalah putera Harun ar-Rashıd
Khalifah ke-5 masa (dinasti) Abbasiyah dengan ibu kota kerajaannya di Bagdad.
Setelah ayahnya meninggal dunia al-Ma’mun
menggantikan kedudukan ayahnya menjadi Khalifah.
Pada awal abad 9 Khalifah al-Ma’mun membangun akademi “ house
of Wisdom” (Bait al-Hikmah)
di Bagdad. Salah seorang ahli matematika pertama yang bergabung dengan institut
ini adalah Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi (825 A.D). Ia
berasal dari daerah Selatan laut Aral di Asia Tengah. Beliau mentranslet
naskah-naskah ilmiah dari Yunani ke dalam bahasa Arab dan juga belajar serta
menulis tentang aljabar, geometrid dan astronomy. Al-Khwarizmi mempersembahkan
dua tulisannya kepada khalifah Al-ma’mun
yaitu tentang aljabar dan astronomi. Dari semua karya al-Khwarizmi, yang paling
terkenal adalah buku Hisab al-jabr w’al-muqabalah. Dalam buku ini kata “al-jabar” pertama kali
diperkenalkan.
Buku ini yang pertama mengkaji penyelesaian persamaan linier dan
kuadratik secara sistematis. Namun semuanya masih diungkap dengan kata-kata,
sesekali menggunakan lambang bilangan, belum mengembangkan simbol-simbol
al-jabar. Al-Khwarizmi tidak mengenal nol dan negative. Bagian pertama buku ini
berjudul solusi dari persamaan. Persamaan itu adalah linier dan kuadrat yang
disusun oleh unsur-unsur; unit, akar dan kuadrat. Sebuah unit adalah sebuah
bilangan, sebuah akar diekspresikan dengan x dan sebuah
kuadrat diekspresikan dengan x2.
Al-Khwarizmi mereduksi suatu persamaan (linier atau kuadrat) ke
dalam salah satu bentuk dari 6 bentuk standar:
1.
Kuadrat sama dengan akar
2.
Kuadrat sama dengan
bilangan
3.
Akar sama dengan bilangan
4.
Kuadrat dan akar sama
dengan bilangan; contoh: x2 + 10x =39
5.
Kuadrat dan bilangan sama
dengan akar; contoh: x2 + 21=10x
6.
Akar dan bilangan sama
dengan kuadrat; contoh: 3x + 4 = x2
Reduksi tersebut mengandung dua operasi yaitu, aljabar dan
al-muqabalah. Di sini aljabar berarti “penyelesaian” yaitu, memindahkan bentuk negative dari suatu persamaan.
Sebagai contoh; x2 = 40x – 4x2 diubah menjadi 5x2 =
40x. Al-muqabalah berarti “penyeimbangan” yaitu, proses mereduksi bentuk positif sehingga kedudukan kedua
sisi suatu persamaan seimbang. Contoh; 50 + 3x + x2 =
29 + 10x diubah menjadi 21 + x2 = 7x (pada
contoh ini terdapat dua penerapan al-muqabalah pertama; memindahkan bilangan
dan kedua; memindahkan akar).
Al-Khwarizmi memberikan suatu solusi yang komplit
dari setiap bentuk persamaan kuadrat di atas. Temuannya yang luar biasa dan
menarik perhatian adalah ia mengetahui bahwa persamaan kuadrat mempunyai dua
solusi. Dan yang lebih menarik lagi adalah al-Khwarizmi tidak
menenyakan berapakah akar dari dari suatu persamaan
kuadrat, akan tetapi ia menanyakan berapakah kuadrat dari akar suatu persamaan
kuadrat. Sehingga solusi dari suatu persamaan kuadrat tidak hanya berhenti pada
saat akarnya didapatkan, tetapi dilanjutkan dengan mencari kuadrat dari akar
yang didapatkan. Berikut ini adalah persoalan yang dikemukakan oleh
al-Khwarizmi yang diekspresikan dalam notasi matematika modern.
Contoh
1. Persamaan : x2 +
21 = 10x
Solusi
persamaan kuadrat ala al-Khwarizmi.
Tentukan setengah dari bilangan akar yaitu: ½ x 10 = 5. Kalikan 5 dengan dirinya sendiri; 5×5=25. Kurangkan 25 dengan 21, sisanya adalah 4. Tentukan akar
kuadrat dari 4, yaitu 2, dan kurangkan setengah bilangan akar (5) dengan 2,
didapat 3. Inilah akar yang dicari yang kuadratnya adalah 9. Akar yang lain
dapat diperoleh dengan menambahkan akar kuadrat (2) ke setengah bilangan akar
(5) dan jumlahnya adalah 7, dan inilah akar yang kedua yang kuadratnya adalah
49.
Contoh
2. Persamaan
: x2 + 10x =
39
Solusi
persamaan kuadrat ala al-Khwarizmi.
Tentukan setengah dari bilangan akar yaitu: ½ x 10 = 5. Kalikan hasilnya dengan dirinya sendiri: 5×5=25. Kemudian tambahkan dengan 39, sehingga didapat 64. Akar 64
adalah 8, kurangkan 8 dengan 5 didapat 3, ini adalah akar yang dicari yang
kuadratnya 9. Solusi ini dapat diekspresikan sebagai:
Bentuk
ini merupakan bentuk rumus kuadrat atau rumus abc yang kita kenal sekarang.
Selain menggunakan metoda aljabar, al-Khwarizmi juga menggunakan
metode geometri dalam menentukan solusi dari persamaan kuadrat. Misalnya untuk
Contoh 2, solusi secara geometrinya menurut al-Khwarizmi adalah:
Sehingga
panjang sisi persegi pada Gambar 3 adalah 8.

Matematikawan berikutnya adalah Umar al-Khayyam (1050 – 1123). Beliau lahir di Nesyhābūr (Nishāpur) sekarang adalah
daerah bagian utara Irak. Setelah ±200
tahun kematian al-Khwarizmi, Umar al-Khayyam menghasilkan sebuah karya yang
berjudul Al-jabr w’al-muqabalah. Karyanya ini sangat dipengaruhi oleh ide-ide dan karya
al-Khawarizmi. Umar bahkan mangambil contoh yang digunakan dalam buku
al-Khawarizmi yaitu Hisab al-jabr w’al-muqabalah. Pada tulisannya, Umar
al-Khayyam menambahkan dengan bentuk persamaan pangkat tiga dan empat. Akan
tetapi beliau belum berhasil menemukan metode aljabar untuk mendapatkan
solusinya. Beliau menunjukkan solusinya dengan cara geometri.
Salah satu contoh menentukan solusi persamaan pangkat tiga ala
Umar al-Khayyam dengan menggunakan irisan kerucut.
·
Ilustrasi: x³ + b² x = b²c
·
Konstruk parabola x² = by
·
Konstruk ½ lingk. , r = (c/2), pusat (c/2,0)
Titik
potong parabola dengan ½ linkaran (titik D)
adalah akar dari pers pangkat tiga yang bersangkutan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar